Anda sedang membaca...
Esai

Kembali ke Perpustakaan

BANGUNAN itu besar, malah selalu besar seingat saya. Letaknya di pojok sekolah saya dan kalah ramai daripada kantin sekolah. Saya memasukinya untuk kali pertama di kelas 1 SD. Itupun karena tidak sengaja, karena rasa penasaran. Begitu saya masuk, suasananya sepi. Hanya ada beberapa kakak kelas, mungkin kelas 3 atau 4 yang tidak saya kenal, sedang membaca. Satu anak terlihat cekikikan sendirian. Sepertinya ada yang menggelitiknya. Sempat terbersit keinginan untuk pergi, namun ada sesuatu di dalam sana yang memanggil-manggil saya untuk melangkah lebih jauh ke dalam.

Saat di dalam, saya melihat ada begitu banyak buku yang disimpan dalam almari-almari yang tingginya melebihi tinggi badan saya, dengan susunan berdasarkan tema dan lalu diurutkan berdasarkan abjad nama pengarangnya. Beberapa nama mereka saya kenal dari majalah/buku yang saya baca, seperti H.C. Andersen dengan cerita anak-anak klasiknya, Astrid Lindgren yang mengarang Pippi Si Kaus Kaki Panjang, cerita petualangan karya Enid Blyton, tapi ada begitu banyak nama lain dan judul-judul buku lain yang tidak saya kenali tersusun rapi di almari. Ada buku cerita anak, buku bergambar, cerita petualangan, buku tentang tumbuhan atau aneka hewan, dan lain-lainnya.

Seketika meledak rasa bahagia saya karena masuk ke tempat yang tepat. Saya gembira karena tadi tidak pergi atau ke kantin sekolah. Kegembiraan saya makin membuncah, karena tidak seperti di toko buku atau di tempat persewaan buku di kampung saya, semua buku bisa dibaca secara gratis di tempat. Malah buku-buku ini boleh dibawa pulang, kata penjaganya, asalkan saya memiliki kartu anggota. Sejak saat itu, saya rutin mengunjungi bangunan yang bernama perpustakaan. Bahkan saya betah sekali sampai pernah bermimpi untuk bisa hidup di tengah-tengah buku, di perpustakaan sebesar perpustakaan Kongres di Amerika yang menurut Alberto Manguel dalam buku History of Reading pada tahun 1996 saja telah mempunyai lebih dari 100 juta koleksi. Saya yakin, bukan saya semata yang punya pengalaman demikian dengan perpustakaan.

Melek informasi berkat perpustakaan
Saya telah berubah dari sosok anak berusia 6 tahun menjadi pria berumur 35 tahun. Bacaan saya bukan lagi buku cerita anak, melainkan sudah meluas menjamah buku fiksi dalam dan luar negeri, buku-buku sejarah, puisi, filsafat pemikiran, psikologi, sosiologi klasik maupun kontemporer, memoar. Saya juga telah mengakrabi begitu banyak nama, mulai dari sastrawan AA Navis, NH. Dini, Ahmad Tohari, Budi Darma, Iwan Simatupang, Rendra, Joko Pinurbo, Pramoedya Ananta Toer hingga Ernest Hemingway, Dostoveyski, Leo Tolstoy, John Steinbeck, Pablo Neruda, Naguib Mahfouz, Gabriel García Márquez, Luis Sepúlveda, Yasunawari Kawabata, Shusako Endo, Haruki Murakami, Ben Okri, Paulo Coelho. Atau nama-nama pemikir seperti Emile Durkheim, Max Weber, Karl Marx, Jurgen Habermas, Carl Jung, Raymond Williams, Francis Fukuyama, Michel Foucault, William Marsden, Anthony Reid, Suryadi, dan centang-perentang nama-nama lain yang masih panjang daftarnya bila dideretkan.

Saya akui, pengetahuan dan nama-nama itu saya kenal dari buku-buku yang saya baca di perpustakaan. Bukan saja dari perpustakaan waktu sekolah dasar dulu, tetapi juga dari perpustakaan sekolah menengah di Mertoyudan, perpustakaan daerah Kutoarjo di utara alun-alun, perpustakaan di kampus, perpustakaan di Pusat Studi Jepang, perpustakaan CSIS, perpustakaan LIPI, perpustakaan Aksara, perpustakaan Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, dan Perpustakaan Nasional. Tak terlewat perpustakaan digital seperti Project Guttenberg, iBiblio, Internet Modern History Sourcebook, World Digital Library dan lainnya.

Saya berpikir, diri saya yang sekarang tidak akan menjadi orang yang sama jika saat kecil dulu saya memilih pergi ke kantin. Saya mempunyai hutang sejarah pada perpustakaan sebagai tempat yang “membuka mata” saya sehingga saya melek informasi. Itu sebabnya saya menjadi gusar setiap kali mendengar berita-berita tentang perpustakaan tahun-tahun belakangan ini: masalah merosotnya pengunjung, koleksi yang tidak berkembang, keterbengkalaian, dan lainnya.

Semua sudah berubah
Saya sempat heran saat membaca pendapat Ketua Umum Ikatan Sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi Indonesia Harkrisyati Kamil. Di harian Kompas, 17 November 2009, ia berkata bahwa perpustakaan di Indonesia minim promosi dan kurang dikenal manfaatnya oleh masyarakat. ”Mayoritas perpustakaan di Indonesia jarang dikunjungi masyarakat. Akibatnya ilmu yang ada dalam buku atau dokumen di perpustakaan tidak termanfaatkan secara optimal. Hal ini terjadi merata, baik di daerah perkotaan atau desa.” Keheranan saya berawal, karena saya ingat pernah membaca tulisan William Landram Williamson, berjudul “Library Consultant in Indonesia: The Work of A.G.W. Dunningham”. A.G.W. Dunningham adalah konsultan perpustakaan dari UNESCO yang bekerja di Indonesia total selama enam setengah tahun mulai April 1953 sampai akhir 1968. Ia adalah orang yang memberikan pondasi pemustakaan di Indonesia pada awal kemerdekaan. Ia pernah memberikan laporan bahwa pada tahun 1954, Indonesia memiliki 15.000 perpustakaan rakyat. Jika pada tahun itu, minat besar masyarakat akan perpustakaan telah begitu kuat, mengapa kemudian memudar? Apalagi paling tidak sekarang ini terdaftar 65.189 perpustakaan desa (Kementrian Dalam Negeri 2008) dalam daftar Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Itu belum menghitung jumlah perpustakaan dari instansi lain. Mengapa bisa terjadi?

Apakah karena generasi masyarakat sekarang adalah Digital Native yang sudah tidak lagi membutuhkan perpustakaan fisik dan hanya mengandalkan internet? Tetapi internet di sini belum semaju di Amerika Serikat, yang membuat siswa mudah masuk ke perpustakaan online lewat internet. Di Amerika Serikat, memang terjadi pergeseran itu. Menurut survei di Thomas and Dorothy Leavey Library di University of Southern California (USC), 73 persen mahasiswa sudah tidak lagi ke perpustakaan. Hanya tinggal 36% mahasiswa S1 meminjam buku, 12% datang ke perpustakaan untuk menggunaan jurnal cetakan, dan 61% dari pengunjung perpustakaan hanya datang untuk menggunaan komputer yang disediakan. Karena tahu tidak banyak buku-buku berbahasa Indonesia yang diunggah ke internet, lalu saya mencari sebab lain.

Apakah ini berkaitan dengan yang disebut sastrawan Taufiq Ismail sebagai ”Tragedi Nol Buku”. Ia berkata demikian karena di SMA Indonesia tidak ada kewajiban untuk membaca buku di sekolah. Keadaan ini sudah berlangsung semenjak negara ini berdiri karena diterlantarnya kewajiban membaca buku sastra di sekolah-sekolah. Inikah sebabnya?

Apakah karena bayangan perpustakaan di mata masyarakat terlanjur dipersepsi sebagai tempat yang ‘serius’, kotor, berdebu, dengan penjaga yang sudah tua dan berkacamata tebal? Pakar komunikasi Idy Subandi Ibrahim dalam buku Budaya Populer Sebagai Komunikasi memberi argumentasi lain. Menurutnya, penyebab perpustakaan kurang “bergaung” di masyarakat karena letak lokasi yang tidak strategis, minimnya koleksi, juga ditambah dengan pelayanan dan fasilitas yang kurang memberikan kenyamanan bagi para pengguna. Ia pun menulis bahwa standardisasi perpustakaan, baik di tingkat daerah maupun institusi formal macam sekolah pun berada di titik mencemaskan. Dari 200.000 SD hanya sekitar satu persen yang punya perpustakaan standar. Untuk tingkat yang lebih tinggi seperti perguruan tinggi, hanya sekitar 60 persen yang memenuhi standar dari sekitar empat ribuan perguruan tinggi yang tersebar di Indonesia. Sebab mana yang utama, saya tidak dapat merumuskannya. Namun saya ikut prihatin. Sesuatu secara gawat sedang perlahan-lahan hilang di kehidupan bermasyarakat kita.

Saya sadar bahwa persoalan pemustakaan di waktu saya bersekolah dasar tidak sama dengan yang permasalahan yang merentang sekarang. Perubahan yang mahabesar sedang terjadi. Perubahan ini ikut pula mengubah peran perpustakaan. Pemahaman perpustakaan sebagai “gudang/gedung ilmu” sudah dianggap pandangan tradisional. Terutama karena penggunanya sudah berubah. Para pengguna muda yang menghendaki cakupan isi yang dinamis, interaktif dan bisa diberi sentuhan pribadi, serta bisa diunduh tanpa harus datang ke perpustakaan. Para pengguna sekarang telah menjadi konsumen informasi yang dalam sekejap dapat melompat dari mesin pencari ke situs jejaring sosial, ke wiki, ke daftar tautan terpilih.

Menolong perpustakaan lewat Sobat Perpus
Kenyataan pahitnya hari ini adalah perpustakaan berangsur-angsur hilang pesonanya dari masyarakat dan ditinggalkan. Lalu apa yang bisa kita perbuat untuk membantu perpustakaan? Sederhana. Kita dapat menolong dengan merumuskan jawaban “mengapa masyarakat harus ke perpustakaan sekarang ini? Apa yang ada di perpustakaan yang tidak dimiliki oleh masyarakat?”

Menurut saya, salah satu jawabannya adalah di sisi ekonomis. Satu yang tampak jelas dan tentu saja dialami begitu nyata, adalah kecenderungan bahwa harga-harga naik terus, terutama yang berkaitan dengan bahan-bahan kebutuhan pokok. Bayangkan tahu dan tempe, yang menjadi santapan sumber protein di sebagian besar rumah tangga. Harga cabai yang melambung tinggi dan kenaikannya berpengaruh terhadap pola belanja sebagian besar masyarakat. Itu semua fakta yang tak bisa kita pungkiri. Prioritas menjadi kata kunci; daftar belanjaan mesti diseleksi. Mereka bahkan harus menyeleksi kembali urut-urutan di kategori kebutuhan pokok. Dalam hal ini, buku tentulah anjlok posisinya. Bisa jadi malah dilupakan.

Lalu apa solusinya? Yang terbayang adalah upaya mengaktifkan perpustakaan publik yang ada. Jumlah perpustakaan dan sebarannya memang tak banyak, tetapi ini bisa menjadi solusi bagi masyarakat yang ingin membaca buku dengan dana terbatas. Artinya, perpustakaan dapat menjadi tempat yang ekonomis bagi pembaca yang ingin membaca/meminjam buku.

Jawaban yang lain yang dapat diajukan adalah karena perpustakaan didukung oleh masyarakat pengguna aktif. Selama masih ada pendukungnya, perpustakaan tidak akan hilang tergerus jaman. Untuk menciptakan masyarakat pengguna aktif yang diperlukan adalah promosi yang dapat menolong perpustakaan. Promosi itu bisa dalam bentuk menyediakan informasi setepat-setepatnya tentang perpustakaan publik yang ada: dimanakah lokasinya, bagaimana cara mencapai lokasinya, apa saja koleksinya, bagaimana cara peminjamannya, dan lain sebagainya. Masyarakat yang sudah menjadi pengguna aktif perpustakaan dapat berpartisipasi dengan mempromosikan perpustakaan yang sudah ia kunjungi.

Pengguna aktif ini disebut “Sobat Perpus” yakni orang-orang yang mau mengaktifkan perpustakaan publik dengan cara-cara sederhana yakni membuat pendataan perpustakaan-perpustakaan yang ada di sekitar tempat tinggalnya, mencatat kondisi perpustakaan tersebut, siapa pustakawannya, berapa banyak orang yang mengunjungi, apa layanan atau koleksi yang menurutnya bisa diperbaiki dari perpustakaan tersebut, dan yang paling penting adalah mengunjungi kembali perpustakaan secara bersama-sama.

Dengan demikian, perpustakaan menjadi organisme yang hidup karena campur tangan masyarakat pembaca yang peduli dan merasakan kebutuhan untuk tumbuh bersama perpustakaan. Masyarakat lebih luas diundang untuk terlibat menggunakan dan mengembangkan koleksi perpustakaan lewat kampanye donasi buku yang diarahkan seiring kebutuhan perpustakaan.

Lewat Sobat Perpus, perpustakaan pun dapat didorong untuk mencapai tingkatan yang lebih jauh lagi, yakni perpustakaan dapat menjadi tempat berkumpulnya manusia yang menggunakannya, untuk menemukan potensi fungsi kebudayaan yang lebih kental lewat beragam kegiatan yang berbasis pada penggunanya. Bukan tidak mungkin bila perpustakaan yang telah aktif mendefinisikan dirinya sendiri bukan lagi sekedar ”tempat mengumpulkan dan mengorganisasikan informasi” atau definisi International Federation of Library Associations and Institutions (IFLA) yang mengartikan perpustakaan sebagai “kumpulan materi tercetak dan media non-cetak dan atau sumber informasi dalam komputer yang disusun secara sistematik untuk digunakan pemakai” melainkan dapat menjalankan fungsi kultural sebagai pemangku ingatan bangsa. Perpustakaan dapat menjadi sebuah wahana untuk membangun kesadaran publik, seperti yang diangankan Hikmat Darmawan.

Penutup
Saya yakin bukan saya pribadi yang merasa memiliki hutang sejarah pada perpustakaan, sebagai tempat yang “membuka mata” saya sehingga saya melek informasi. Meskipun di masa depan, fisik perpustakaan mungkin berganti wujud dari gedung dengan almari penuh buku menjadi ribuan bit data, jiwa perpustakaan tetaplah sama sebagai pencerah mata budi manusia. Maka saya mengundang semua orang untuk kembali ke perpustakaan.

Apalagi karena sampai hari ini, perpustakaan masih dapat digunakan oleh masyarakat untuk mengakses buku secara ekonomis. Dukunglah perpustakaan di sekitar Anda dengan menjadi Sobat Perpus yakni individu-individu yang ingin mengaktifkan perpustakaan publik agar perpustakaan dapat kembali menjadi menjadi pelita utama bagi masyarakat dan bahkan menjadi lembaga kultural yang berperan besar dalam transformasi masyarakat ke kehidupan yang lebih maju.

*Amang Suramang – penulis kreatif, mantan moderator komunitas pembaca aktif Goodreads Indonesia periode 2008-2010, inisiator berdirinya gerakan Sobat Perpus

About sobatperpus

Sebuah inisiatif untuk mengaktifkan masyarakat agar kembali lagi ke perpustakaan dan menggunakan perpustakaan sebagai "tempat pertukaran budaya informasi". Dibentuk tahun 2008 di komunitas pembaca aktif Goodreads Indonesia. Inisiator: Amang Suramang Email: sobatperpus@yahoo.com Twitter: @sobatperpus

Diskusi

2 thoughts on “Kembali ke Perpustakaan

  1. hidup perpustakaan Indonesia

    Posted by helvry | 15/05/2011, 07:15

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: