Anda sedang membaca...
Kegiatan, Pendataan

Laporan Kunjungan: library@batavia

Laporan Kunjungan Sobat Perpus:
library@batavia, 15 Mei 2011


Minggu siang, 15 Mei 2011, di Museum Bank Mandiri. Sejak jam 1 siang, teman-teman Sobat Perpus yang kumpul di stand Goodreads Indonesia gak sabar nunggu waktu kunjungan ke library@batavia. Pasalnya, ada selentingan akan ada pembagian pin keren Sobat Perpus berwarna ungu, warna kesukaan Harun Harahap. Jadi sambil mengisi waktu, saya sempatkan buat liat-liat stand GRI yang keren di ajang World Book Day 2011. Ada 2-3 foto kegiatan Sobat Perpus, seperti waktu kunjungan ke Perpus Haryoto Kunto di Bandung dan ke Perpumda DKI lalu.

Tiba-tiba Harun ngasih tanda bahwa acara Sobat Perpus akan dimulai, berhubung sang moderator, Ika Agustina a.k.a Owl sudah mendarat di area museum. Jadi sambil menenteng banner Sobat Perpus, kami beramai-ramai ke lantai 1 Museum Bank Mandiri. Yang datang di acara Sobat Perpus lumayan banyak: Aldo, Ari, Rhe, Ika, Delisa, Oyong, Aveline, Mia, Echa, Vera, Harun, Amang, Threez, Ijul dan Anop.

Blognya: http://perpustakaanfim.wordpress.com

Begitu masuk ke dalam perpusnya, wuiiiiih…. keren. Paduan antara gedung tua dan koleksi buku yang asyik banget buat dibaca. Di depan, perpus library@batavia ini dijaga oleh relawan-relawan dari Forum Indonesia Membaca. Mereka ramah-ramah dan kami disuruh mengisi daftar tamu. Jadi diwakili Rhe, anggota Sobat Perpus dicatatkan ke daftar hadir. Sementara yang lain, foto-foto!😛

Gak lama, keluar Sekar Chamdi, Project Manager Forum Indonesia Membaca sekaligus motor di balik berdirinya library@batavia. Sambil senyum-senyum, rombongan dibawa Sekar ke pojok anak, yang nyaman dengan karpet empuk dan hiasan pagar warna-warni. Wah asyiiik…

Perpus Pertama di Museum
Sharing Sobat Perpus dipandu oleh Ika/Buzenk/Owl dengan pengantar yang apik kalau library@batavia merupakan perpus yang unik. Hal ini langsung dibenarkan oleh Sekar karena library@batavia merupakan perpus umum pertama yang didirikan di museum. Jalan panjang menuju pembukaan perpus dimulai tahun 2001, waktu itu Forum Indonesia Membaca mempunyai program “drop book” dan pengumpulan buku. Hasilnya banyak buku yang terkumpul yang kemudian perlu punya tempat. Setelah berkali-kali pindah lokasi mengikuti kemampuan dana FIM, akhirnya per 2008 FIM mendapat tawaran tempat di Museum Bank Mandiri dengan syarat harus membuat kegiatan di Museum Bank Mandiri. Akhirnya diputuskan, FIM akan membangun perpus publik di area museum.

Setelah persiapan selama setahun, akhirnya seluruh koleksi buku yang dikumpulkan FIM dibuka untuk publik sejak tahun 2009. Di tahun 2011, ini library@batavia memiliki jumlah koleksi lebih dari 8.000 buku dengan klasifikasi buku anak (fiksi dan non-fiksi) dan buku dewasa (fiksi dan non-fiksi). Para pengunjung kebanyakan anak-anak sekolah.

Perpus Tanpa Aturan
Satu hal yang menonjol dalam library@batavia ini, diakui oleh Sekar Chamdi, adalah “tidak adanya aturan”. Artinya, tidak ada tempelan aturan yang melarang ini itu, atau memasang tanda dilarang berisik. Justru di perpus ini, dibolehkan berisik dan bermain. Satu-satunya aturan tak tertulis adalah wajib menyayangi buku. Kenapa memilih strategi ini?

Menurut Sekar, perpus sudah terlalu lama dicap sebagai tempat yang kaku, banyak aturan, sehingga pustakawan memenjara dan terpenjara oleh pola aturan itu. Masyarakat pun enggan masuk ke perpus karena kesannya angker, banyak aturan. Dengan dibebaskan dari aturan, perpus ternyata menjadi tempat pertama yang selalu disinggahi anak sekolah atau para pengunjung museum untuk duduk, kemudian pelan-pelan mau mulai membaca koleksi buku yang tersedia.

Tidak adanya aturan itu, justru bukan membuat perpus jadi berantakan tetapi malah punya tempat di hati para pengunjung. Aturan iuran tahunan yang dipasang di bagian pendaftaran sendiri, pada akhirnya tidak diterapkan hingga hari ini.

Sharing makin memikat dengan obrolan dan pertanyaan dari floor tentang penambahan koleksi dan masa depan taman bacaan. Tentang taman bacaan, Sekar mengatakan bahwa umur taman bacaan sangat ditentukan oleh komitmen sang pendiri taman bacaan. Kadang kala begitu pengelola menikah, taman bacaan menjadi dilupakan dan akhirnya redup. Itu sebabnya bagi pengelola taman bacaan, sangat perlu menjawab “apakah mereka mau meluangkan waktu weekend untuk pengembangan taman bacaan atau tidak”. Kalau jawabannya tidak, lebih baik tidak usah membuka taman bacaan.

Tanpa terasa, waktu bergulir dengan cepat. Setelah foto-foto (lagi!!!!), serah terima souvenir, dan pembagian Pin Sobat Perpus, akhirnya kunjungan Sobat Perpus berakhir. Senang sekali bisa ke library@batavia… Semoga berumur panjang setua museumnya….

PS:

Ini foto pin Sobat Perpus yang dibagikan kemarin oleh Harun Harahap. Kereeeeeeen bgt kan…


About sobatperpus

Sebuah inisiatif untuk mengaktifkan masyarakat agar kembali lagi ke perpustakaan dan menggunakan perpustakaan sebagai "tempat pertukaran budaya informasi". Dibentuk tahun 2008 di komunitas pembaca aktif Goodreads Indonesia. Inisiator: Amang Suramang Email: sobatperpus@yahoo.com Twitter: @sobatperpus

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: