Anda sedang membaca...
Berita

Untuk kemajuan, mari menimba budaya buku dan arsip di Belanda

Mengapa untuk studi tentang negeri sendiri banyak ilmuwan Indonesia harus pergi ke luar negeri? Mengapa untuk studi sejarah Indonesia, misalnya, kandidat doktor kita harus pergi ke Leiden, Belanda? Jawabannya, jelas berkaitan dengan budaya buku dan arsip.

Demikian diutarakan Dosen dan Peneliti Leiden University Institute for Area Studies (LIAS) Leiden Belanda, Suryadi, dalam acara diskusi Buku: Gerakan Membaca dan Budaya Arsip yang diselenggarakan oleh Komunitas Padang Membaca, di Museum Adityawarman Padang, jalan Diponegoro Padang, Minggu (17/7/2011).

Indonesia, menurut Suryadi, semestinya belajar banyak pada negara Belanda dalam hal perhatian dan pentingnya pengelolaan arsip yang baik. Sejauh ini, bangsa Indonesia masih memiliki kesadaran arsip yang lemah. Tradisi pengarsipan kantor-kantor pemerintah sama lemahnya dengan instansi-instansi swasta. Jangankan untuk bilangan ratusan tahun atau puluhan tahun ke belakang, arsip-arsip dalam bilangan belasan tahun yang lalu saja sering tidak lengkap dan tidak tertata dengan baik.

“Misalnya, di mana kita bisa mendapatkan data arsip tentang jumlah penumpang dan Bus ANS yang berangkat dari Padang ke Jakarta pada tahun 1991, edisi-edisi koran Haluan yang terbit sepanjang tahun 1952, jumlah kaset komersial yang diproduksi oleh Tanama Record dan Sinar Padang tahun 1978, dan jumlah wartel di Sumbar tahun 1987. Itu akan susah diperoleh bila tidak dapat dikatakan mustahil. Kondisinya tentu lebih parah lagi kita menyebut data-data yang lebih awal lagi. Di Leiden, hal seperti itu tertata dengan baik dan dapat dengan mudah diakses bila diperlukan untuk kepentingan ilmu pengetahuan,” jelas Suryadi.

Diceritakan, Leiden, kota kecil berpenduduk sekitar 100.000 jiwa di Belanda, adalah salah satu tempat penyimpanan banyak buku dan arsip mengenai Indonesia. Di kalangan ilmuwan sosial dan humaniora, Leiden disebut sebagai The Mecca of Indonesian Studies karena kekayaan kepustakaan dari dua perpustakaan di kota itu yang penuh dengan berbagai buku, naskah, brosur, pamflet, majalah dan koran tua, sketsa, peta, surat-surat, foto, rekaman audio-visual, dan lainnya yang terkait dengan masa lalu dan masa kini Indonesia.

“Dua perpustakaan itu adalah Universiteitsbiliootheek Leiden, universitas tertua di Belanda yang didirikan tahun 1575, dan di Koninklijk Instituut voor Taal, -Land – en Volkenkunde yang sering disingkat dengan KITLV Leiden. Bangsa yang memiliki kesadaran arsip yang tinggi pasti menghargai buku dan dokumen budaya apapun. Kesadaran seperti itu menyebabkan isi perpustakaan di negara-negara maju relatif berbeda dengan perpustakaan di negara berkembang yang sering lebih diidentikkan dengan buku saja,” ujarnya.

Lebih lanjut, Suryadi mengatakan, kelemahan banyak perpustakaan kita adalah miskinnya bibliografi sumber-sumber pertama (naskah, koran, majalah, pamflet, brosur, foto, materi-materi audio visual, dan lain-lain). Sebaliknya, kekayaan sumber-sumber pertama seperti itulah yang menjadi kekuatan perpustakaan-perpustakaan di negara maju. Banyak sumber-sumber pertama tentang negeri, budaya, dan bangsa kita sendiri justru tersimpan dengan baik di perpustakaan luar negeri. Anehnya, hal itu justru sering sulit mendapatkannya di perpustakaan-perpustakaan dalam negeri.

“Kita harus cepat sadar dari kekeliruan mengabaikan sumber-sumber pertama dan data-data arsip dan menyimpannya dalam perpustakaan dalam negeri. Bila tidak, jangan terus ngomel bahwa para calon doktor kita di masa depan harus tetap pergi ke luar negeri untuk mengumpulkan data guna penulisan disertasi mereka,” tuturnya.

Sementara itu Walikota Padang Membaca, Yusrizal KW, mengatakan gerakan yang digagasnya bersama sejumlah kalangan di kota Padang tersebut, bertujuan untuk meningkatkan minat baca masyarakat melalui pengumpulan sumbangan buku yang dikemas melalui program Wakaf Buku.

“Kita juga punya visi untuk menghadirkan perpustakaan-perpustakaan hingga ke tingkat kelurahan melalui kerjasama dengan berbagai kalangan. Untuk saat ini, kita akan menyalurkan buku-buku yang disumbangkan anggota Padang Membaca ke berbagai perpustakaan, termasuk perpustakaan kecil yang digagas oleh kelompok masyarakat, baik di tingkat kecamatan, kelurahan, sampai perpustakaan mesjid dan musala,” kata dia.

Sumber: http://www.detiknews.com/read/2011/07/17/213703/1683045/10/indonesia-harus-belajar-banyak-mengelola-arsip-pada-belanda

About sobatperpus

Sebuah inisiatif untuk mengaktifkan masyarakat agar kembali lagi ke perpustakaan dan menggunakan perpustakaan sebagai "tempat pertukaran budaya informasi". Dibentuk tahun 2008 di komunitas pembaca aktif Goodreads Indonesia. Inisiator: Amang Suramang Email: sobatperpus@yahoo.com Twitter: @sobatperpus

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: