Anda sedang membaca...
Berita

Melirik Perpustakaan-Perpustakaan Unik

Buku yang merupakan jendela pengetahuan telah banyak diapresiasi dengan “merumahkannya” di sebuah gedung perpustakaan. Begitu besarnya apresiasi terhadap buku sehingga banyak pihak yang akhirnya membuat perpustakaan dengan konsep unik. Dengan konsep unik tersebut, tentu saja perpustakaan unik mampu menggaet pengunjung lebih banyak.

Indonesia, Catatan Sejarah Seni Rupa

Indonesian Visual Art Archive (IVAA) adalah lembaga nirlaba yang berdiri pada tahun 1997 di Yogyakarta. Wilayah kerja utamanya adalah dokumentasi, penelitian, researchers exchange programe, kepustakaan, seminar dan workshop, serta penerbitan buku.

Koleksi yang ada di perpustakaan itu telah mencatat sejarah seni rupa sejak periode 1940-an yang terdiri dari arsip pribadi, dokumen langka, portofolio seniman, dan katalog perhelatan seni. “Koleksi kami sudah lebih dari lima ribu dan fokus pada data seni rupa. Untuk koleksinya sudah banyak pihak yang menyumbang, misalnya seniman yang habis pameran. Kalau untuk data-data yang lama, kita juga ada kerja sama dengan beberapa keluarga seniman,” ujar Dwi Rahmanto dari bagian dokumentasi IVAA.

Jika tak bisa datang ke Yogyakarta, IVAA juga menyediakan layanan secara online. “Sistem database online IVAA sekarang ditambah fi tur khusus, yakni folder seniman. Meski sudah bisa diakses beberapa tahun terakhir, kita baru akan launching IVAA Online pada April mendatang,” tutup Dwi.

Amerika, Nuansa Renaissance

Suzzalo Library merupakan perpustakaan yang dirancang dengan gaya arsitektur Collegiate Gothic. Bangunan perpustakaan itu bisa dikatakan merupakan bangunan yang paling terkenal di University of Washington. Nama perpustakaan itu diambil dari Henry Suzzalo, Presiden University of Washington yang meninggal pada 1933.

Nuansa Renaissance begitu terasa ketika berada di perpustakaan itu. Ada beberapa patung yang dibuat oleh Allen Clark untuk menghiasi museum itu, antara lain Moses, Louis Pasteur, Dante Alighieri, Shakespeare, Plato, Benjamin Franklin, Justinian I, Isaac Newton, Leonardo da Vinci, Galileo Galilei, Johann Wolfgang von Goethe, hingga Hugo Grotius. Figur-figur tersebut rupanya dimaksudkan untuk mewakili Th ought, Inspiration, dan Mastery.

Polandia, Era Kontemporer

Perpustakaan di Lodz, Polandia, cetusan Maciek Grelewicz ini memiliki desain eksterior berupa huruf-huruf emas. Selain perpustakaan tradisional dan digital, di sini ada kafe dan exhibition spaces.

Dikutip dari www. dezeen.com, desain yang eye catching semacam itu memang begitu mencirikan perpustakaan di era kontemporer.

“Hal itu memang disengaja karena ingin menawarkan kepada pengunjung sebuah tempat yang lebih dari sekadar tempat membaca buku. Perpustakaan ini juga mudah diaskses oleh orang-orang dari usia, latar belakang, dan kepentingan berbeda. Jadi, perpustakaan tak hanya dikunjungi oleh kalangan tertentu,” ujar sang perancang.

Hungaria, Mozaik Ubin Warna-warni

Regional Library and Knowledge Centre di Pecs, Hungaria, merupakan salah satu perpustakaan yang cukup unik. Dirancang oleh Torok es Balazs Epiteszeti, sebuah perpustakaan dengan desain interior mozaik ubin warnawarni yang ada di dinding membuat Anda seolah-olah menyaksikan pelangi dengan spektrum warna yang cantik.

Marta Nagy adalah seorang seniman keramik yang membuatnya. Perpustakaan itu memiliki enam lantai dan memiliki kubah berbentuk telur. Serangkaian jendela kecil dan skylight puncture melingkar di permukaan dinding yang melengkung. Pécs adalah sebuah kota multikultural dengan sejarah yang kaya.

Sang desainer secara dinamis menyintesiskan dualitas dengan berbagai cara melalui bentuk sarang lebah yang mewakili sebuah keabadian. Ini merupakan sebuah tempat untuk berpikir secara abstrak, yaitu membebaskan pengetahuan dan pengetahuan akan kebebasan. Keindahan dari sebuah pusat pengetahuan bukanlah berpusat pada beton, tapi lebih pada kemungkinankemungkinan berpikir itu sendiri.

Dengan kata lain, sebuah ruang kosong itu bisa diisi dengan pikiran-pikiran orang yang ada di dalamnya. Beehive atau sarang lebah yang dibentuk dari ubin Zsolnay dan dilapisi dengan eosin merupakan penggabungan yang mengacu pada fakta bahwa karya arsitektur dapat dibaca dengan cara yang berbeda karena menyertakan karakteristik lokal dan internasional, stylish dan tradisional, historikal dan kontemporer, tapi yang paling utama ialah harus memiliki identitas tersendiri.

Inggris, Boks Telepon Umum

Boks telepon umum mungkin yang kuno untuk ukuran masa kini. Setiap orang, paling tidak, memiliki untuk berkomunikasi. Namun, di Inggris, boks telepon umum yang klasik justru dijadikan perpustakaan, yaitu Phone Booth Library.

Di Westbury sub Mendip, sebuah daerah perpustakaan terkecil di sini yang berada dalam phone booth tradisional berwarna ulang. Meski kecil, perpustakaan itu memuat ratusan buku, DVD, dan CD. Perpustakaan mini itu bisa dikunjungi selama 24 jam setiap harinya.

Swedia, Bus Keliling

Jika di Indonesia banyak perpustakaan keliling, kita juga bisa menemukan perpustakaan bus di Swedia. Namun jangan salah. Ini bukan sembarang perpustakaan bus. Peter Th uvander and Martin Hedenström of Swedish Design Group Muungano telah memenangi penghargaan Swedish Library Bus of the Year pada tahun 2008 untuk perpustakaan busnya.

Perpustakaan bergerak itu terletak di Kiruna, sebuah daerah di Swedia. Di sini, Anda tak hanya dapat membaca buku, tapi juga tersedia sofa agar Anda nyaman mendengarkan musik, juga ada game komputer. Tak hanya itu, bus yang disulap jadi perpustakaan itu juga menyediakan bioskop kecil serta akses internet.

Bus warna-warni itu mengombinasikan new digital media dan material tradisional seperti paperback books. Interior bus yang cozy membuat orang betah berlama-lama berada di dalamnya sembari bertemu orang-orang berbeda di masyarakat yang memungkinkan komunikasi yang menyenangkan.

arm/R-4
Sumber: http://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/84870

About Tanam Ide Kreasi

Scriptozoid! (Tanam Ide Kreasi) adalah konsultan publikasi (publicist) dan new media publisher di Indonesia yang lahir untuk satu tujuan: “mencintai dan semakin mencintai dunia membaca dan menulis”.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: