Anda sedang membaca...
Berita, Pendataan

Taman Bacaan Mahanani, Perpustakaan dari Kandang Sapi

Bekas kandang sapi berdinding anyaman bambu di Jalan Supiturang, Mojoroto Kota Kediri ini disulap Naim Ali, menjadi sebuah perpustakaan mini sederhana sejak dua tahun lalu. Sehari-harinya perpustakaan ini dikunjungi pelanggannya yang sebagian besar anak-anak dan remaja. Berbagai macam bacaan anak-anak fiksi, pelajaran hingga bacaan formal untuk orang dewasa tersedia. Mereka bisa leluasa pinjam buku-buku ini secara gratis.

Sekali waktu Naim juga jemput bola ke pelanggan perpustakaannya. Ia memodifikasi becak menjadi perpustakaan berjalan. Becak itu berisi berbagai buku bacaan. Sasarannya pelanggan yang lokasinya relatif jauh dari perpustakaan kandang sapinya. Sirine pengeras suara menjadi pertanda kehadiran Naim. Warga terdiri dari anak-anak dan dewasa langsung berhamburan. Mereka terlebih dulu mengembalikan buku yang dipinjam seminggu sebelumnya. Setelah itu, para peminjam ini memilih beragam buku di becak.

Taman Bacaan Mahanani memiliki 2000 koleksi buku. Jumlah anggotanya mencapai 300 orang. Semula buku-buku itu koleksi pribadi Naim. Namun banyak rekannya dari bloger dan aktivis LSM ikut menyumbangkan buku-buku.

Kami hadirkan sedikit interview dengan Naim Ali sebagai pengurus utama Taman Baca Mahanani :

1. Boleh diceritakan sedikit mengenai profile diri Naim sendiri?
Saya tinggal di Kediri Jatim, suka ketawa tapi dalam hitungan detik bisa berubah jadi sok serius yang kelihatannya sangat nggak keren. Santai saja kenapa, sih? Haha! Kadang juga suka nulis puisi meski sering nggak ngerti sendiri apa maksud puisi yang baru saja ditulis, bahkan nggak jarang juga bertanya dengan diri sendiri, “Ini puisi, ya?!”.

2. Apa yang mendorong Naim mendirikan taman baca Mahanani?
Banyak faktor, sih. Malah klise semua. Seperti saya hanya ingin berguna semampu saya, atau dulu saya termasuk orang yang malas membaca, atau ingin orang-orang lain selain saya jangan sampai mengalami pengalaman tidak suka membaca seperti saya. Hihi, klise, kan? Dan perlu digaris bawahi, saya tidak mendirikan Taman Baca Mahanani sendirian. Bisa dibilang, yayasan yang dulu susah payah dibangun oleh orang tua saya adalah salah satu pencetus berdirinya Mahanani. Juga banyak kalangan masyarakat, kawan, saudara yang ikut mendukung berdirinya Mahanani. Lalu apa salahnya bila saya ikut-ikutan ‘nimbrung’ di situ, sebatas kemampuan saya, tentunya.

3. Apa arti dari Mahanani dan mengapa diberi nama itu?
Mahanani adalah nama yang diberikan oleh ibu saya, diambil dari bahasa jawa yang berarti migunani, suatu yang berguna. Bisa juga diartikan sebagai ‘wahana’, sebuah sarana. Sesuai namanya, semoga Taman Baca Mahanani selalu berguna, sanggup menjadi sarana belajar apa saja bagi masyarakat lebih luas tanpa mengenal batas, golongan, ras, siapa saja, diawali dari membaca apa saja. Yang dibaca nggak harus buku, kan? Tapi ini bukan maksud membuka praktek dukun atau telepati, lho. Haha!

4. Jadi bagaimana konsep kerja Taman Baca Mahanani? Apakah seperti perpustakaan? Bolehkah buku-bukunya dibawa pulang si peminjam?
Kurang lebih seperti itu. Buku-buku di Mahanani boleh dibaca di tempat atau dipinjam untuk dibaca di rumah, di luar Mahanani. Gratis! Tanpa bayar seperser pun. Peminjam bebas memilih berapa lama (hari) waktu pinjam asal tidak lebih dari 1 minggu, jumlah peminjaman maksimal 3 (judul) buku. Bila buku belum juga dikembalikan melebihi batas waktu pinjam, Mahanani akan menjemput bukunya langsung ke alamat peminjam.

5. Darimana buku-buku di taman baca Mahanani berasal?
Sangat sedikit dari koleksi pribadi dan amat sangat banyak dari sumbangsih para malaikat, termasuk para bunglon Kampung Fiksi, sampai Mahanani kebingungan cara untuk berterimakasih, membalas tiap kemuliaan mereka. Mereka keren, mereka selalu bikin kejutan-kejutan yang mengharukan. Semoga tiap tetes haru Mahanani ini bisa menjadi doa tulus untuk kebaikan maupun kesuksesan dunia akhirat mereka semua. Amin..

6. Koleksi buku terbanyak genre apa (fiksi, ilmu penget, politik, dll)?
Pengetahuan umum, berikutnya fiksi. Sedangkan koleksi buku untuk anak-anak masih bisa dibilang sedikit.

7. Koleksi di atas kira2 jumlah bukunya udh berapa?
Pada awal berdiri, tanggal 21 April 2010, ada 1000 eksemplar buku. Mayoritas buku pengetahuan umum. Sekarang kurang lebih hampir telah mencapai 2000an eks buku dalam koleksi Mahanani, termasuk yang belum sempat masuk dalam data kita.

8. Taman bacaan ini target pengunjungnya lebih ke arah mana? Anak2? Remaja? Dewasa? Umum?
Mahanani dibuka untuk umum, namun mayoritas program-program kita, entah yang sudah terealisasi atau pun yang masih dalam wacana dan rencana kita, segmentasinya lebih ke anak-anak dan remaja.

9. Sampai skrg yg rajin pinjam/baca anak2-remaja-pelajar atau dewasa/umum?
Peminjam terbanyak adalah anak-anak dan remaja. Ini mungkin karena segmen agenda kita yang berjalan masih untuk kalangan mereka. Ironinya sih, perbendaharaan buku untuk mereka juga minim. Keren, deh. Haha!

10. Pastinya pengelolaan perpust butuh dana, dari mana? Apa bayar kalo pinjam atau ada donatur? Atau Naim donaturnya?
Kita nggak ada dana pasti. Haha! Buku Mahanani, kan, dipinjamkan secara gratis. Sebenarnya peminjam yang telat mengembalikan buku kita kenakan denda sebesar Rp. 200,- tapi peraturan itu belum kita berlakukan. Jadi anggaran dana sebagian dari kocek pribadi. Beberapa waktu lalu ada donatur ikut bantu. Sebagian besar dananya langsung kita gunakan untuk pengadaan rak buku. Mereka mengatasnamakan diri mereka sebagai Rahasia. Kita, sih, tetap nyebut mereka sebagai MALAIKAT! Hahahaha…

11. Siapa saja yang mengelola Taman baca Mahanani?
Saya yang menanggung jawabi Mahanani. Baru-baru ini Mahanani dibantu oleh dua manusia keren. Bagaimana, tidak? Mereka tiba-tiba mau bantu Mahanani tanpa mau dibayar, sembari nyambi kuliah di Univ. Nusantara PGRI Kediri.

12. Ceritakan ttg kegiatan anak2 spt Kalis (karya-tulis) dan bgmn antusiasme anak2?
Untuk Kalis, sebenarnya kita masih baru mengawali kegiatan itu. Karena dulu kita memang kebingungan dengan bagaimana cara mengawali kegiatan tulis-menulis. Ceritanya lucu, sih, tapi panjang. Jadi mending nggak usah diceritakan saja ya. Haha! Jadi, hanya sebatas memprovokasi mereka untuk terus menulis apa saja yang mereka pingin tulis, tidak lupa untuk selalu rajin membaca, tentunya. Setiap tulisan yang dikumpulkan akan kita jadikan bahan obrolan kepada mereka, beberapa kita arahkan bakat tulisnya. Sesuai saran teman, tulisannya segera kita salin dan ditempelkan jadi mading.

Ada juga agenda dongeng –kita namai dengan “Do Seneng” untuk anak-anak TK/ Play Group setiap minggu atau sewaktu-waktu, bila ada pihak sekolah (TK/ Play Group) yang minat berkunjung.

Rencana besok ada Main-main Buku. Semacam hasta karya, praktik karya sesuai dari buku yang telah dibaca. Itu awalnya karena kemarin ada anak yang belum mau mengembalikan bukunya, sebab dia belum selesai mempraktikan membuat rumah semut berdasarkan buku yang dia pinjam. Sepertinya kalau dikerjakan bersama atau berkelompok akan lebih seru.

13. Apakah ada anak2 tsb yg berminat utk menulis dan mencoba karyanya utk dipubliskan/diterbitkan…jika ada bagaimana cara naim utk mendukung minat mereka itu…
Kalau minat untuk dipublikasikan, sih, belum ada. Ini menjadi PR kita untuk mengenalkannya, tak bosan juga selalu menyemangati mereka. Lawong tahu karya mereka mau dipajang di mading saja malu, kok. Hihi, lucu sekaligus seru. Mengamati mereka saling membanggakan tulisan, tak mau kalah dengan temannya itu sangat seru. Saya berani jamin, anda akan tertawa, minimal bakal senyum-senyum geli bila ikut mengamati polah mereka.

14. Apakah ada kegiatan rutin yang dilakukan secara berkala untuk menarik minat membaca?
Selain kegiatan-kegiatan sederhana tadi, ada Buku Keliling tiap minggu dengan becak bahenol kita itu. Buku Mampir, untuk wilayah yang jauh dari jangkauan Mahanani; dengan menitipkan beberapa buku di tempat-tempat yang bisa dipercaya dititipi buku agar dipinjam-pinjamkan kepada masyarakat sekitar. Setiap minggunya buku kita ambil dan diganti dengan buku-buku baru.

15. Apa harapan Naim dari taman baca Mahanani?
Semoga taman baca ini, khususnya saya, tak bosan belajar walaupun bila kelak virus minat belajar yang pelan-pelan kita sebar semakin meluas. Ternyata, usaha meningkatkan minat baca (apalagi buku) itu adalah usaha yang muluk-muluk. Pada dasarnya aktifitas sekecil apa pun sama halnya dengan membaca, proses belajar yang tidak kita duga. Tinggal bagaimana kreativitas kita mengolahnya.

Taman Baca Mahanani
Up. Naim Ali
Jl. Supiturang Utara 13 Kediri 64112

Sumber: http://www.indosiar.com/fokus/perpustakaan-dari-kandang-sapi_94060.html dan http://www.kampungfiksi.com/2012/02/naim-dan-taman-mahanani.html

About sobatperpus

Sebuah inisiatif untuk mengaktifkan masyarakat agar kembali lagi ke perpustakaan dan menggunakan perpustakaan sebagai "tempat pertukaran budaya informasi". Dibentuk tahun 2008 di komunitas pembaca aktif Goodreads Indonesia. Inisiator: Amang Suramang Email: sobatperpus@yahoo.com Twitter: @sobatperpus

Diskusi

5 thoughts on “Taman Bacaan Mahanani, Perpustakaan dari Kandang Sapi

  1. Senang mengetahui postingan kami bisa membantu memberikan informasi yang berguna🙂

    Posted by Kampung Fiksi | 28/03/2012, 11:43
  2. Kami mencetak buku buku tentang pangan. Nanti kami kirimkan ke Taman Bacaan Mahanani ya, moga-moga banyak yang jadi tertarik mempelajari pangan. Dari wida winarno

    Posted by Wida Winarno | 31/05/2012, 05:38

Trackbacks/Pingbacks

  1. Ping-balik: Perpustakaan Becak | AlineaTV - 16/05/2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: