Anda sedang membaca...
Esai

Serunya Nongkrong di OBA!

Jika Inggris memiliki Library of Birmingham tempat dimana pecinta buku menghabiskan waktu, Amerika mempunyai Congress Libraries yang merupakan perpustakaan terbesar di dunia, maka Belanda adalah tanah dimana Openbare Bibliotheek Amsterdam atau Amsterdam Public Library (OBA) berdiri sebagai tempat untuk membaca, belajar, riset, cek email atau sekedar berteduh ketika hujan, ya… the OBA is a welcome place to hang-out…

“We may sit in our library and yet be in all quarters of the earth.” ~John Lubbock

Tentu menyenangkan jika sekali duduk di perpustakaan, seperempat, setengah, bahkan seluruh bagian dunia ini bisa dijejaki. Tapi, jaman sekarang masih adakah yang bisa berlama-lama menghabiskan hari di perpustakaan? “Hmm…lebih seru juga di mall, bisa ngadem, liat ini itu meskipun ga beli, bisa poto-poto, dan yang paling penting ga cupu daripada harus gaul sama buku.” Komentar demikian mungkin muncul karena memang bangunan paling oke dilihat hanya pusat perbelanjaan. Kalau ada bangunan yang lebih megah, eye catching, gaul daripada mall, mungkinkah jadi magnet untuk didatangi, bahkan jika bangunan itu ternyata perpustakaan?

Bangunan seperti itu banyak dijumpai di negara-negara maju, Belanda salah satunya. Saya selalu iri bagaimana negeri ini memprioritaskan pelayanan publik terutama dalam memajukan dan mencerdaskan warganya. Area membaca yang nyaman dan membuat kerasan tampaknya sudah membudaya. Semembudaya minat baca yang terlebih dulu dilancarkan. Salah satu sarana umum yang ditujukan pemerintah Belanda untuk memenuhi kebutuhan membaca masyarakatnya adalah Openbare Bibliotheek Amsterdam atau Amsterdam Public Library.

OBA biasa bangunan itu disebut merupakan perpustakaan umum terbesar di Belanda dan salah satu yang terbesar juga di Eropa. OBA dibuka resmi tanggal 7 Juli 2007 dan bisa diakses 7 hari dalam seminggu selama 12 jam, dari 10.00-22.00. Luas OBA yang hampir 30.000 m2 dengan 10 lantai itu memiliki pengaruh kuat bagi warga Belanda. Ditambah 1200 tempat duduk dan 600 diantaranya dilengkapi komputer yang terhubung internet. Gedungnya tak hanya menjadi rumah bagi jutaan judul buku, tetapi menjelma ikon pustaka elegan. Jo Coenen, pendesainnya mampu menyuguhkan pesona lain pada setiap inchi OBA. Siapa sangka bangunan semi futuristik itu perpustakaan. Tak ada kesan kuno apalagi angker. Seseorang tak perlu merasa seperti kutu buku memasukinya. Sebab membaca di Belanda bukan lagi dikotomi satu pihak, melainkan telah menjadi keumuman yang membudaya.

Melalui penggarapan apik OBA, pemerintah Belanda bermaksud menyentuh kekunoan tradisi membaca dengan modernisasi tempat dimana kegiatan membaca bisa berlangsung. Menyapa kekakuan lewat suasana hangat. Menyulap situasi retro menjadi nafas kekinian. Pemerintah Belanda sangat cerdik membidik sasaran muda sebagai target minat baca. Sebab mereka meyakini buku merupakan media sangat baik melakukan transfer nilai, menstimuli kreativitas, kemampuan berpikir empirik dan kemampuan lingusitik. Lewat membaca seseorang tidak hanya menjadi kaya wawasan, tapi pun pengalaman.

Selain OBA, di seluruh Belanda ada 171 gedung perpustakaan tersebar di 418 kota/desa (gementee). Kota Den Haag yang berpenduduk setengah juta orang memiliki 19 gedung dengan total 108.648 anggota (data Desember 2010). Di kota Amsterdam tercatat ada 28 gedung dan di Rotterdam ada 21 gedung. Koleksi buku di 171 perpustakaan di seluruh Belanda mencapai 32 juta judul, dengan transaksi peminjaman 105 juta buku/tahun.

Perpustakaan di Belanda bukan teritori asing menghabiskan waktu. Propaganda gemar membaca disana sangat didukung banyak pihak, terutama para pemegang kebijakan dan penyokong pembiayaan. Tak heran banyak tempat seru bisa dikunjungi untuk membaca buku. Tak terkecuali bandara. Sebab Schipol akan dipercantik dengan hadirnya perpustakaan. Mulai musim panas tahun ini secara resmi dibuka, dan mendaulat Schipol sebagai bandara pertama di dunia berfasilitas pustaka.

***

Tambahan nih ya, ternyata bangunan perpustakaan yg keren2 itu menginspirasi Badan Perpustakaan Daerah Jawa Barat untuk mendesain interior perpustakaan daerahnya lebih chic dan fashionable lho. Dede Yusuf, Wakil Gubernur Jawa Barat malah sempet bilang gini,

“Perpustakaan harus dikemas lebih menarik dan dinamis agar ramai dikunjungi masyarakat seperti di luar negeri. Misalnya dibuat taman bermain (bacaan) untuk anak-anak, atau membuat lomba penulisan kreatif, dan memperbanyak buku pelajaran komik yang bisa merangsang anak membaca.” [Kompas, 31 Maret 2009]

RINA OKTA
Termuat di “Setengah Dunia dengan OBA”

About Tanam Ide Kreasi

Scriptozoid! (Tanam Ide Kreasi) adalah konsultan publikasi (publicist) dan new media publisher di Indonesia yang lahir untuk satu tujuan: “mencintai dan semakin mencintai dunia membaca dan menulis”.

Diskusi

Trackbacks/Pingbacks

  1. Ping-balik: Serunya Nongkrong di OBA! « Luckty Si Pustakawin - 22/06/2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: