Latar Belakang

Satu di antara banyak hal yang tak pernah stabil di negeri ini adalah harga. Yang tampak jelas, dan tentu saja dialami begitu nyata, adalah kecenderungannya untuk naik terus, terutama yang berkaitan dengan bahan-bahan kebutuhan pokok. Bayangkan, tahu dan tempe, yang menjadi santapan sumber protein di sebagian besar rumah tangga, bahkan sempat kacau pasokannya gara-gara harga kedelai, bahan baku utamanya, melambung tinggi. Kenaikan harga-harga itu tentu berpengaruh terhadap pola belanja sebagian besar masyarakat.

Prioritas menjadi kata kunci; daftar belanjaan mesti diseleksi. Mereka bahkan harus menyeleksi kembali urut-urutan di kategori kebutuhan pokok: yang masih punya ruang bisa mengganti satu jenis kebutuhan menjadi jenis yang lain yang lebih murah, sedangkan mereka yang sudah biasa mengkonsumsi jenis yang paling bawah… yah, entah mesti menggantinya dengan apa.

Buku, dalam situasi serupa itu, tentu anjlok posisinya. Bisa jadi malah dilupakan. Mana bisa orang mendapatkan celah untuk menyisihkan uang demi belanja buku? Tetapi hal itu tak mengubah apa yang telah berlaku: bahwa buku tetap harus dibaca, dan pasti terus diproduksi, dan bahwa minat baca yang sudah telanjur berkembang –seberapa pun lajunya, seberapa pun terbatasnya –mustahil dibiarkan merana, atau mungkin juga mati lagi. Tidak usahlah disebutkan di sini manfaat buku dan membacanya, bagi perorangan maupun masyarakat (dan negara) secara keseluruhan.

Pertanyaannya, bagaimana supaya kedua hal itu bisa tetap dipertemukan? Yang mudah terbayang adalah mengaktifkan perpustakaan publik yang ada, yang bisa menjadi tempat pertemuan itu. Fakta yang tak bisa dipungkiri: perpustakaan publik adalah fasilitas langka hampir di mana pun di negeri ini. Bukan hanya itu. Siapa saja bisa juga melihat betapa, sekalipun ada perpustakaan semacam itu di suatu kota, entah milik pemerintah daerah entah sumbangan dermawan, suasananya tak pernah ramai. Biasanya, koleksinya yang miskinlah yang menjadi sebab.

Mengaktifkan tentu perlu biaya. Tapi jika keperluan itu timbul untuk pengadaan buku, menambah koleksi dengan buku-buku mutakhir, mestinya bisa ditempuh jalan lain. Tanpa harus mengeluarkan uang dalam jumlah besar, pengadaan bisa ditempuh dengan kampanye donasi. Pasti ada orang yang bersedia menyumbangkan buku miliknya yang sudah tidak dibutuhkan demi kemaslahatan yang lebih luas.

Yang mesti ada dalam kegiatan itu mestinya juga bukan syarat yang pelik, yaitu orang-orang yang, selain mencintai buku, mau bekerja sukarela membantu mengaktifkan perpustakaan publik.

Inilah yang ditawarkan dengan kegiatan “Sobat Perpus” – sebuah inisiatif untuk menggalang orang-orang yang mau mengaktifkan perpustakaan publik. Kita bisa mulai dengan hal yang paling sederhana: membuat daftar perpus di sekitar kita, mencatat kondisinya, siapa pustakawannya, mengunjungi (tentu saja beramai-ramai). Kegiatan yang lebih besar bisa digagas kemudian bila dimungkinkan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: